Dalam sejarah seni rupa Indonesia, tidak ada lukisan yang memiliki muatan emosi dan politik sekuat karya Raden Saleh Syarif Bustaman yang berjudul Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857).
Lukisan ini kini menjadi salah satu koleksi paling berharga Istana Kepresidenan Indonesia. Namun, tahukah Anda bahwa lukisan ini sejatinya adalah sebuah “surat protes” visual? Raden Saleh, yang saat itu tinggal di Eropa dan mendapat pendidikan seni Barat, menggunakan kuas dan kanvasnya untuk melakukan perlawanan halus namun menohok terhadap kolonialisme Belanda.
Mari kita bedah kode-kode rahasia yang disisipkan Raden Saleh dalam mahakarya beraliran Romantisme ini.
Pemicu Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro Karya Raden Saleh: Kemarahan Terhadap Lukisan Pieneman

Untuk memahami lukisan Raden Saleh, kita harus melihat “musuh”-nya terlebih dahulu. Pada tahun 1830, pelukis Belanda bernama Nicolaas Pieneman membuat lukisan berjudul “The Submission of Prince Dipo Negoro” (Penyerahan Pangeran Diponegoro).
Dalam versi Pieneman, Pangeran Diponegoro digambarkan:
-
Berwajah lesu, pasrah, dan menunduk.
-
Posisi tangannya terbuka seolah memohon belas kasihan.
-
Berdiri di tangga yang lebih rendah daripada Jenderal De Kock (simbol inferioritas).
-
Bendera Belanda berkibar gagah di latar belakang.
Raden Saleh, yang melihat lukisan tersebut di Eropa, merasa tersinggung. Ia tahu bahwa Diponegoro tidak menyerah, melainkan dikhianati saat diundang berunding di Magelang saat bulan puasa. Sebagai balasannya, Raden Saleh melukis ulang adegan tersebut 27 tahun kemudian dengan narasi yang berbalik 180 derajat.
Kode 1: Judul Lukisan ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro’ Adalah Pernyataan Sikap

Perbedaan pertama dan paling fundamental ada pada judul.
-
Pieneman memberi judul “Penyerahan” (Submission), yang menyiratkan kekalahan sukarela.
-
Raden Saleh memberi judul “Penangkapan” (The Arrest), yang menegaskan adanya paksaan, pengkhianatan, dan tindakan tidak ksatria dari pihak Belanda.
Kode 2: Gestur Sang Pangeran yang Menantang Dalam Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro

Dalam versi Raden Saleh, Pangeran Diponegoro adalah pusat gravitasi lukisan.
-
Posisi Sejajar: Diponegoro tidak berdiri di anak tangga bawah, melainkan sejajar dengan Jenderal De Kock. Ini menyimbolkan kesetaraan derajat antara pribumi dan penjajah.
-
Wajah Tegas: Wajah Diponegoro menengadah, matanya tajam menatap De Kock, dan dadanya membusung. Tangan kirinya mengepal di pinggang, sementara tangan kanannya menunjuk atau memberi gestur tegas (seolah menahan amarah karena dikhianati).
-
De Kock yang Kaku: Sebaliknya, Jenderal De Kock digambarkan berdiri kaku, canggung, dan tidak berwibawa. Ia tampak seperti orang yang salah tingkah di hadapan karisma sang Pangeran.
Kode 3: Proporsi Kepala (The Big Head Mockery) Dalam Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro
Ini adalah detail jenius yang sering luput dari mata orang awam. Jika diperhatikan dengan seksama, Raden Saleh menggambar kepala para perwira Belanda (termasuk De Kock) dengan proporsi yang sedikit lebih besar dari tubuh mereka.
Dalam dunia seni, ini dianggap sebagai satir atau ejekan halus. Raden Saleh seolah ingin menggambarkan bahwa para penjajah ini adalah sosok-sosok yang sombong, angkuh, atau bahkan “monster” yang mengerikan, kontras dengan proporsi tubuh Pangeran Diponegoro dan pengikutnya yang digambar proporsional dan estetis.
Kode 4: Cameo Raden Saleh dalam Sejarah

Raden Saleh tidak hadir di Magelang pada tahun 1830, namun ia “memasukkan” dirinya sendiri ke dalam lukisan tersebut.
Perhatikan kerumunan di sisi kiri depan. Terdapat tiga sosok pria yang menonjol:
-
Pria yang menunduk sedih.
-
Pria yang menatap tajam ke arah Belanda.
-
Pria yang memandang penuh hormat ke arah Diponegoro.
Ketiga pria ini diyakini sebagai potret diri (self-portrait) Raden Saleh sendiri dalam berbagai pose. Ia melukis dirinya mengenakan pakaian gaya Eropa namun lengkap dengan blangkon atau atribut Jawa. Ini adalah simbol bahwa meskipun ia dididik di Barat, jiwanya tetap berpihak pada tanah air dan ia hadir sebagai “saksi imajiner” penderitaan bangsanya.
Kode 5: Komposisi Romantisme yang Dramatis
Raden Saleh mengadopsi gaya Romantisme yang menekankan pada emosi dramatis, berbeda dengan gaya Pieneman yang kaku dan dokumenter.
-
Pencahayaan: Cahaya matahari pagi menyinari wajah Diponegoro, memberikan aura kesucian atau kepahlawanan.
-
Warna: Penggunaan warna-warna hangat namun suram menggambarkan suasana genting.
-
Bendera: Tidak ada bendera Belanda yang berkibar megah di lukisan Raden Saleh. Bendera triwarna Belanda di kejauhan tidak terlihat jelas, seolah kekuasaan mereka tidak diakui di momen tersebut.
Kesimpulan: Sebuah Tamparan Halus untuk Raja
Ironisnya, setelah lukisan ini selesai, Raden Saleh menghadiakannya kepada Raja Willem III dari Belanda. Bagi orang Belanda saat itu, ini msungkin terlihat sebagai hadiah tanda kesetiaan dari seorang pelukis jajahan.
Namun, bagi kita yang bisa membaca kode visualnya sekarang, jelas bahwa lukisan ini adalah “Kuda Troya”. Raden Saleh menyelundupkan kritik tajam tentang kelicikan Belanda dan kepahlawanan Jawa langsung ke jantung istana penjajah.
Lukisan “Penangkapan Pangeran Diponegoro” bukan sekadar reka ulang sejarah; ia adalah manifesto politik Raden Saleh bahwa fisik bangsa kita mungkin bisa ditangkap, namun harga diri dan jiwa perlawanan tidak akan pernah bisa ditundukkan.
Baca juga : Seni Interaktif: Ketika Pengunjung Bukan Lagi Penonton Pasif di Sebuah Pameran
